Senin, 04 Oktober 2010

Amsal 19: 21-23, Rencana Jahat pun Tuhan Ijinkan Terjadi

Oleh : Pdt. Bigman Sirait

Setiap memasuki tahun baru, banyak prediksi tentang hal-hal yang “buruk”. Ada yang bilang bahwa tahun depan perekonomian lebih suram, bencana alam melanda, ki-sruh politik, dan berbagai isu yang sifatnya mencemaskan. Ini sebuah fenomena yang harus disikapi hati-hati. Dan  sebetulnya tidak terlalu penting apa yang akan terjadi tahun depan. Apakah masa depan serba gelap, terjadi pertikaian politik, ekonomi mero-sot, bukan itu masalahnya, tetapi bagaimana kita hidup. Apakah Tuhan ada bersama kita  dalam menjalani hari-hari kita.
Amsal 19: 21-23 mengatakan: “Banyak rancangan di hati manu-sia, tetapi keputusan Tuhanlah yang terlaksana……” Silakan merancang masa depan. Silakan membaca berbagai analisis di media-media, tetapi itu tidak perlu membuat gelisah, karena itu cuma analisis. Orang bisa saja meramal dan bernubuat, namun hanya ada satu kepastian dalam hidup: Tuhanlah yang menentu-kan segalanya. Kalau Anda per-caya Tuhan kenapa harus berpe-gang pada ramalan atau prediksi paranormal? Bukankah itu  peng-hinaan kepada kedaulatan Allah? Kita toh tidak bisa mengubah keputusan Allah. Allah bukanlah Allah yang bisa berubah-ubah. Allah adalah Allah yang abadi dan kekal melintasi ruang dan waktu. Dia tahu segalanya.

Banyak rancangan di hati manu-sia, termasuk rancangan jahat kepada orang Kristen. Kalau itu terjadi, itu pun karena Tuhan ijinkan. Ketika Sadrach, Mesach, Abednego hendak dibakar di Babel, mereka berkata: “Raja, buang kami ke api itu, Allah kami akan menyelamatkan kami. Tetapi kalau-pun kami terbakar mati, Allah tetap Allah.” Itu iman sejati dan luar biasa. Api cuma sebuah feno-mena. Hidup hanya sebuah feno-mena. Artinya, bukan hidup dalam hidup bernafas yang menjadi penting, tetapi hidup dalam ber-iman kepada Tuhan. Karena hidup beriman pada Allah itulah Paulus berkata: “Hidup Kristus, mati untung”. Kematian tidak menjadi masalah. Tetapi kalau hidup kita terikat pada fenomena hidup adalah bernafas, maka kalau kita tidak bernafas atau mati, itu menjadi malapetaka. 
Apa pun yang kita lakukan, pen-ting kita pikirkan bahwa masa depan itu di tangan Tuhan. Maka memasuki 2010 tidak perlu ada ketakutan. Silakan berencana, te-tapi bukan itu yang menentukan hidup-matimu, bukan itu yang me-nentukan kepuasanmu. Kita harus membuka ruang di mana Tuhan akan memutuskan. Bila prediksi Anda yang begitu presisi ternyata meleset, tidak usah kecewa. Ker-jakan apa  yang bisa kau kerjakan tetapi sadar selalu ada ruang terbuka dalam hidupmu di mana Tuhan yang menentukan dan yang memberikan keputusan-keputusan yang pas. Dia akan lakukan apa yang mau Dia lakukan. Sesuatu tampaknya gagal, itu kan menurut kita sebagai manusia. Rencana Tuhan selalu bagus, selalu berhasil, termasuk dalam gagalmu dan sakitmu, sebab di sana ada sesuatu yang mau dikerjakan-Nya.

Kesetiaan
Lalu di ayat 22 dikatakan: Sifat yang diinginkan pada seseorang ialah kesetiaannya; lebih baik orang miskin daripada seorang pem-bohong. Kesetiaan sangat penting dari setiap orang. Orang yang setia itu bisa dipegang kata-katanya. Orang setia bisa dipercaya. Setia dan iman itu sama, yaitu ketetapan kepada satu keyakinan. Artinya, kalau Anda sudah percaya Tuhan, percayalah penuh, tidak lari-lari. Bila pada 2009 dan sebelumnya kita beriman kepada Tuhan, maka 2010 dan seterusnya juga harus begitu. Kesetianmu itulah harga dirimu di dalam bertuhan. Kese-tiaanmu itulah bukti kualitas iman-mu di dalam Tuhan. Jadi, bertuhan itu pun harus seperti itu. Kita per-caya bahwa rancangan Tuhan selalu baik. Rancangan yang baik menurut Tuhan itu bisa jadi sakit-penyakitmu, atau berbagai persoa-lan yang kamu hadapi. Tetapi waktu melewati sakit-penyakit dan per-soalan itu, sering kali kita berkata: “Aku jadi tahu dan belajar banyak dari peristiwa ini”. Tetapi bisa juga kita malah sering marah: “Kenapa begini dan begitu!” Sering kali satu kondisi mengubah warna kesetiaan kita, sehingga rasa percaya kepada Tuhan terguncang karena fenomena kegaga-lan dan kesakitan yang kita alami.
Hati-hatilah, sebab orang yang tidak setia menjadi tidak ada harga-nya. Bahkan dikatakan, lebih baik orang miskin daripada seorang pem-bohong. Orang yang kaya dari hasil menipu dan mencuri, itu tidak ada harganya. Orang miskin jujur, jauh lebih bernilai di mata orang benar dan di mata Tuhan. Tetapi di mata manusia-manusia rakus, pembo-hong yang kaya itulah yang benar. Jika dikatakan orang miskin lebih baik dari seorang pembohong, maka saya mengatakan lebih baik dan lebih bersukacita penuh kepastian orang beriman kepada Tuhan daripada mengandalkan kemampuan diri dan kekuasaan yang dimiliki.

Akhirnya dalam ayat 23 dikatakan: “Takut akan Allah mendatangkan hidup maka orang orang bermalam dengan puas tanpa ditimpa malape-taka”. Jadi, ternyata ujung dari semuanya cuma takut akan Allah-lah yang mendatangkan kehidupan. Takut akan Allah itulah yang menda-tangkan jaminan. Takut akan Allah itulah yang medatangkan kepastian. Kalau begitu, tahun depan apa yang terjadi? No body knows. Kalau si A dan si B ngomong ini dan itu, suka-suka merekalah. Mau seribu ran-cangan, perhitungan, pertimba-ngan, argumentasi, itu hanya menurut kita. Apa Tuhan bilang begitu? Tidak ada yang tahu. Kita harus mengurung diri kita pada keterbatasan kita, tetapi mesti berani menerima Allah yang tidak terbatas itu. Betapa indah dan se-derhana untuk menggapai keba-hagiaan dan kepastian dengan takut akan Allah. Takut akan Allah tentu bukan satu kalimat, bukan sekadar imbauan dan khotbah, tapi realita hidup yang tampak nyata, di mana kegandrungan dan kehau-san kita pada kebenaran, itu menjadi bagian penting dalam hidup.

Memasuki tahun 2011, silakan buat rencana sebaik-baiknya. Te-tapi apa pun yang terjadi, ingat-lah: Tuhan memutuskannya bagi kita. Karena itu lapangkan dada-mu. Sediakan ruang kosong seluasnya dalam dirimu supaya Dia bisa bekerja di dalam hidupmu. Jangan marah dan kecewa ketika yang kau rancang berubah semua. Karena dalam perubahan ranca-nganmu pun, dalam kekece-waanmu itu pun, Tuhan akan mengubahnya dengan cara yag luar biasa. Jangan kekecewaan memenuhi seluruh benakmu se-hingga menutup ruang pengha-rapanmu kepada Tuhan, rasa ke-cewa menimbulkan kemarahan-kemarahan membuat engkau buta untuk melihat pertolongan Tuhan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar