Jumat, 08 Oktober 2010

2 Kor 12: 7-10, Menyikapi dan Melewati Kesulitan

oleh : Pdt. Bigman Sirait 
 
Dan supaya aku jangan meninggikan diri karena pernyataan-pernyataan yang luar biasa itu, maka aku diberi suatu duri dalam dagingku, … …(2 Kor 12: 7-10). Apa yang dikatakan Paulus dalam ayat-ayat di atas, berlawanan dengan semangat jaman ini, di mana manusia menginginkan hanya kenikmatan. Yang dimaksud Paulus tentang “duri” adalah menyangkut kesakitan, kesukaran, penderitaan, dan itu digambarkannya di ayat 10. Bisa jadi ini berbentuk penyakit, atau hal-hal yang terus datang di dalam dirinya secara rutin, dan sangat menyedihkan. Sementara anak rohaninya sendiri, Timotius, pun mengalami hal yang sama. Timotius mengalami gangguan pencernaan (maag), dan Paulus berkata supaya Timotius jangan hanya meminum air tetapi menambahkan sedikit sari anggur. Apa yang dibicarakan Paulus, sangat luar biasa, yakni kesadaran menerima apa yang Tuhan kerjakan, kesadaran menerima pembentukan oleh Tuhan. Ini hebat sekali. Paulus mempunyai karunia-karunia luar biasa, penglihatan-penglihatan yang sangat hebat, yang melengkapi dia dalam pelayanannya. Tetapi Paulus bukan tipe orang yang bisa membuat mukjizat. Tapi ia juga sangat luar biasa dalam pengajaran dengan logika yang kuat. Dia
bahkan mampu mengungkapkan kebenaran itu di hadapan para ahli bicara Yunani di Athena. Dia mampu bicara kepada mereka yang kacau ajarannya dan mencoba meluruskannya. Ini sangat luar biasa.
Paulus menyikapi duri dalam tubuhnya bukan dengan kecewa, marah. Padahal dia sudah tiga kali memohon kepada Tuhan supaya itu dicabut, tetapi Tuhan berkata, “Tidak, cukuplah kasih karunia-Ku bagimu”. Tiga kali dia memohon, tidak juga dikabulkan Tuhan. Di sini, kita mungkin punya pemikiran, apakah Paulus ini seorang yang hina, tidak layak mendapat kasih karunia dari Tuhan? Apa Paulus ini seorang berdosa, terkutuk, yang tidak layak diberkati? Nanti dulu. Saya tidak berani mengatakan apa pun tentang rasul ini. Banyak hal luar biasa diperbuatnya. Bayangkan apa yang dikatakannya, “Ada pun hidupku ini bukan aku lagi melainkan Kristus yang hidup dalam aku”. Luar biasa!

Melakukan kebenaran
Sering kita mengatakan bahwa anak-anak Tuhan, kalau sakit itu tidak memuliakan Tuhan. Anak-anak Tuhan, kalau menderita, itu penghinaan. Anak-anak Tuhan itu, kalau tidak jago, tidak hebat, itu tidak memuliakan Tuhan. Anak-anak Tuhan, kalau sakit, itu tidak boleh menjadi kesaksian. Bacalah seluruh isi Alkitab, dari Perjanjian Lama sampai Perjanjian Baru, tidak akan pernah ditemukan kalimat dan prinsip seperti di atas. Tetapi, Alkitab jelas mengatakan: Yang memalukan Tuhan itu adalah orang yang tidak melakukan kebenaran. Tidak memuliakan Tuhan adalah tidak melakukan kebenaran. Orang yang menghina Tuhan, adalah orang yang tidak melakukan kebenaran.  

Orang yang melakukan kebenaran, sekalipun pola hidupnya pasang-surut, beda-beda yang dialami dalam perjalanan hidupnya, tidak pernah merasa gelisah. Karena bukan itu yang penting bagi seorang anak Tuhan, tetapi melakukan kebenaran itu sendiri di dalam kehidupannya, bukan sekadar mengatakan tetapi mewujudkannya. Bukan sekadar di luar tetapi di dalam batinnya, menjadi bagian dari seluruh kehidupannya. Adakah itu di dalam hidup kita? Itu yang penting bagi kita.

Nah, apa yang dialami dan dilihat Paulus, penting kita pikirkan. Paulus mempunyai satu sikap di mana kita bisa belajar. Ia memandang terbalik dari apa yang bisa kita pandang. “Justru di tengah-tengah kesulitan itu, aku merasakan kesukacitaan, kekuatan yang luar biasa karena di dalam kelemahanku nyatalah kekuatan Tuhan,” katanya. Perspektif yang sangat hebat sekali. Di jaman ini kita selalu ingin menjadi the winner, peme-nang. Kita maunya selalu senang, tidak mau susah. Apalagi kita dijejali lagi dengan berbagai ajaran yang seperti itu, sehingga tidak bisa menerima kenyataan ketika sakit berkepanjangan, misalnya. Kita tidak bisa menerima kenyataan gagal terus dalam bisnis, atau keluarga kacau-balau.  Padahal permasalahan bisa jadi karena kesalahan sendiri. Anda selalu gagal dalam kerja, dihimpit, dipecat. Tetapi setelah dicek, ternyata kualitas kerja Anda yang payah. Wajarlah dipecat, jangan salahkan Tuhan.  Dalam kepahitan hidup, ketika kita merasa betul-betul sudah melakukan kehendak Tuhan, berbahagialah, karena diberi kesempatan oleh Kritus memikul salib-Nya. Berbahagialah, karena bisa seperti Paulus.

Ketika dalam kesulitan, jangan gundah-gulana hatimu. Ketika penyakit berkepanjangan jangan bersedih. Sepertinya kau  ditinggalkan Tuhan, tapi tidak. Tetapi sedihlah kalau kau tidak berdiri di atas kebenaran, dan tidak melakukannya. Sedihlah kalau kau meragukan Tuhan, sedihlah kalau kau tidak lagi percaya kepada Dia, dan goncang hanya karena kondisi-kondisi dalam hidupmu. Sedihlah kalau kau berkata, “Di mana kau Tuhan!” Demi Tuhan yang hidup, tidak ada persoalan yang terlalu berat dalam hidup ini, kecuali meragukan Tuhan. Tidak ada persoalan yang paling berat kecuali tidak bisa lagi bergantung kepada-Nya. Tidak ada persoalan dalam hidup ini kecuali sudah menggugat Tuhan dengan cara yang salah, apalagi memaksa DIA untuk melakukan apa yang kita inginkan.
Maka oleh karena itulah ketika Paulus meminta, tiga kali tetapi Tuhan menjawab: “Tidak, cukup kasih karunia-Ku bagimu”, maka berimanlah Paulus dan melihat betul, kasih karunia Tuhan lebih dari cukup di dalam hidupnya. Dia tidak merengek, tidak meninggalkan Tuhan. Bercermin dari sini, maka pola pikir kita mesti dibenahi di dalam diri kalau mau menjadi orang Kristen yang baik, membuat benteng pertahanan yang solid bagaimana Kristus berkehendak dalam hidup kita.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar