Sabtu, 09 Oktober 2010

Ibrani 13: 5-6

oleh : Pdt. Bigman Sirait
 
Reformata.com - Hidup berbagi adalah semangat kekristenan. Hidup tidak boleh berpusat pada diri, sebab itu akan membuat kita tidak pernah puas dengan yang kita miliki. Ibrani 13: 5-6 mengingatkan kita untuk tidak menjadi hamba uang. Sebelumnya, pada ayat (1-2) setiap kita diajar untuk memelihara kasih persaudaraan, memberi tumpangan kepada orang lain, dst. Artinya kita diajarkan bahwa hidup itu tidak berorientasi kepada diri, tetapi memiliki semangat berbagi.
Kepuasan justru didapatkan ketika orang mampu berbagi. Kebahagiaan orang lain akan menjadi kebahagiaan kita. Tetapi ketika orang berkonsentrasi kepada dirinya sendiri ia tidak akan menggapai kepuasan, dan ini membuat dia tidak pernah berhenti mencari harta karena tidak pernah merasa cukup. Ini mengakibatkan orang menjadi serakah. Ada  paradoks: ketika Anda memberi, Anda mendapat kepuasan. Ketika Anda mengumpulkan tanpa mau membagi, Anda justru mendapat kesengsaraan.
Menjadi hamba uang adalah keserakahan. Hamba adalah orang yang sudah tidak berhak atas dirinya, hamba adalah orang yang tidak punya keinginan pada dirinya. Ia seperti orang mati yang bisa berjalan. Ia seperti robot karena tidak punya hak atas dirinya. Dia tidak boleh mengungkapkan perasaannya. Apa pun kata majikan dia harus lakukan. Dia tidak boleh mengeluh sakit, capek. Atau bahkan  dia bisa kehilangan nyawanya, karena dia tidak lagi berhak atas nyawanya. Sebagai hamba uang, maka uang akan mengatur dia di dalam segala hal. Hidup-matinya pun ditentukan uang.
Sifat selalu merasa tidak cukup, akan membinasakan kita, membuat kita berubah tatanan nilai. Orang yang dulu sahabat karib, bisa menjadi orang asing hanya karena pertambahan harta bendanya. Ia menjadi besar kepala, sombong. Keserakahan merusak mental dan moralitasnya. Mereka cenderung kehilangan identitas, meremehkan orang lain. Orang serakah cenderung berpusat pada dirinya, dan harga dirinya adalah harta bendanya. Orang seperti ini mengerikan, karena hanya peduli pada bagaimana mendapatkan harta, tak peduli bagaimana caranya. Bagi orang ini, korupsi, mencuri, sah-sah saja. Mengambil keuntungan di atas penderitaan orang lain tidak salah. Orang serakah hanya mengumbar hawa nafsu, menindas orang lain. Ketidakadilan sosial akan melebar karena banyaknya orang serakah yang menumpuk kekayaan untuk diri sendiri. Dan itu semakin dipersulit ketika harta identik dengan harga diri. Kita tidak melarang orang menjadi kaya, tetapi kayamu caranya seperti apa?
Kalau semua orang kaya membagi dirinya, betapa bahagianya hidup. Dia menolong banyak orang. Orang kaya belum tentu serakah. Banyak orang kaya yang takut Tuhan. Tetapi ketika orang kaya punya sifat serakah, maka ia selalu merasa kurang. Ini yang mengerikan. Karena itu kita harus mengendalikan diri supaya tidak diperbudak uang. Sudah seharusnya uang itu yang kita perbudak.
Bagaimana kita bisa masuk ke dalam tahap seperti ini? Menarik apa kata Ibrani: “Cukuplah dirimu dengan apa yang ada padamu”. Dalam Doa Bapa kami, Tuhan Yesus mengajari kita berdoa: “Berikanlah kami pada hari ini makanan yang secukupnya”. Maka mencukupkan diri dengan berkat Tuhan itu sangat indah. Tuhan memberi tidak lebih tidak kurang, selalu pas buat kita. Pas menjadi kenikmatan. Pas menjadi kesenangan membuat kita terus bergantung kepada Tuhan. Pas akan membuat kita erat bersatu dengan Dia.

Jangan ekstrim
Harta memang penting, tetapi ada yang lebih penting lagi yaitu Yang Memberi Harta. Uang penting tetapi ada yang lebih penting, yaitu Yang Memberi Uang, yakni Tuhan. Tapi jangan terjebak dalam sikap ekstrim yang menganggap kaya itu dosa. Tetapi jangan pula berkata kekayaan adalah berkat Tuhan padahal harta itu kita peroleh di atas penderitaan orang lain. Kau tumpuk harta, tidak mau berbagi, bagaimana kau bilang itu berkat Tuhan? Apa pun berkat yang Tuhan berikan, itu akan menjadi riil sebagai berkat kalau bisa memberkati orang lain di sekitar kita juga. Jangan serakah. Pikirkan orang lain sekitarmu. Banyak orang berkekurangan yang memerlukan pertolongan, yang Tuhan percayakan dalam pelayanan kita. Hiduplah bersama mereka, mengabdilah bersama mereka supaya nama Tuhan dipermuliakan.
Jangan menjadi hamba uang tetapi cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu. Kalau Tuhan memberi rezeki 5 jangan paksa untuk jadi 10. Percayalah, 5 itu baik dan pas untukmu. Tetapi kalau kau paksa menjadi 10, timbul masalah: tidak puas, sehingga hubungan dengan istri mulai kacau, hubungan dengan anak mulai kacau. Banyak orang dalam keserakahan mengundang malapetaka ke rumahnya. Sehingga banyak orang berdiri mencoba mencari penyelesaian tetapi tidak mau untuk memeriksa diri, mendiagnosa diri yang sudah telak terkena penyakit serakah. Justru itu menjadi biang persoalan.
Ketenangan dan cinta kasih di dalam rumahmu jangan diganti dengan keserakahan terhadap harta benda. Karena harta benda itu akan menghanguskan hidupmu, hatimu, membuat engkau lengah dan tak lagi mampu menjaga diri seperti yang Tuhan kehendaki. Jadi cukupkan dirimu dengan apa yang ada. Karena Tuhan telah berfirman: “Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau”. Artinya, Dia adalah Tuhan yang selalu bersama-sama dengan kita. Lalu apa yang kita takutkan?
Persoalannya, beranikah kita belajar untuk mengatakan “cukup” atas berkat Tuhan? Beranikah kita belajar menikmati hasil keringat sendiri? Beranikah Saudara belajar untuk menikmati apa yang ada saja? Bekerjalah sekuatnya, serajinnya, nikmati hasilnya, tetapi jangan menambah penghasilan itu dengan cara yang tidak bijak, mencuri dan menipu. Untuk itu dituntut keberanian untuk membangun kembali struktur pikir kita, supaya kita berpikir sehat tentang hidup ini sebagai anak-anak Tuhan. Mari mengendalikan diri. Mari membuat semacam platform bagi kehidupan. Banyak harta bukan apa-apa, tetapi memiliki Tuhan, itu harus.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar